Jurgen Klopp Ancam Boikot Perempat-Final Piala Liga
Kelolosan Liverpool ke perempat-final Piala Liga membuat Jurgen Klopp merasa campur aduk. Di satu sisi ia gembira, tapi di sisi lain hal tersebut membuat jadwal pertandingan the Reds berantakan.
The Reds secara dramatis menang 5-4 melalui adu penalti melawan Arsenal, untuk selanjutnya jumpa Aston Villa di perempat-final. Namun, progres the Reds ke delapan besar menimbulkan masalah.
Tim polesan Klopp akan melakoni tiga pertandingan Liga Primer, termasuk derbi Merseyside pertama musim ini, Piala Liga dan Liga Champions, pada Desember, sebelum terbang ke Qatar untuk Piala Dunia Antraklub. Mereka akan memainkan dua partai di Qatar jika lolos ke final, dengan pertandingan perdana dihelat pada 18 Desember. Mereka kemudian kembali ke Inggris untuk menghadapi Leicester City pada 26 Desember.
Perempat-final Piala Liga seharusnya digelar ketika the Reds berada di Qatar, sementara duel dengan West Ham United di liga pada 21 Desember ditunda. Hal ini membuat the Reds dihadapkan pada situasi sulit, dan Klopp mengancam memboikot duel versus Villa.
“Jika mereka tidak menemukan tempat untuk kami — tempat yang layak — bukan pukul 3 pagi saat Natal, maka kami tidak akan memainkannya,” tegas Klopp setelah menang lawan Arsenal.
Menjelang lawatan ke Villa di Liga Primer weekend ini, Klopp kembali mengeluhkan masalah jadwal pertandingan.
“Sudah jelas ini sungguh terlalu. Semua orang yang terlibat di permainan akan mengatakan kepada Anda. Tapi mari kita lihat bagaimana mereka menghadapinya.
“Kami tak bisa pergi ke sana [Qatar] dengan 11 pemain untuk memainkan dua pertandingan dan sisanya melawan Aston Villa di Inggris. Ini tidak akan berhasil. Kami akan membuat keputusan, tapi belum. Kami mendiskusikannya. Belum ada keputusan final. Jika kami main di Qatar, itu akan menjadi tim berbeda.
“Tidak aneh mengapa para pemain terbaik dunia tidak bisa tampil sebagus yang mereka bisa selama mereka mau.
“Orang mengatakan: ‘milikilah skuad lebih besar.’ Saat ini, ini sebuah ketidakseimbangan antara jumlag skuad dan jeda yang mereka butuhkan.
“Libur dua pekan setahun tidaklah cukup.”